BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Segala
puji bagi Allah Tuhan semesta alam, atas segala rahmat dan hidayahnya yang
telah dilimpahkan kepada kita semua, karena dengan izin-Nya-lah semua usaha dan
pekerjaan yang kita lakukan dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna. Dan
tentunya dengan karunia-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan penulisan
Makalah ini pada waktunya. Shalawat
beriring salam tak puas-puasnya kita kirimkan kepada junjungan alam Nabi Besar
Muhammad SAW, karena hanya dengan petunjuknya dan segala usaha upaya beliau,
kita dapat rasakan kehidupan yang berbudaya, beraturan dan menjadikan kita
makhluk yang lebih mulia dihadapan Tuhan.
Peluang
usaha adalah sebuah kesempatan untuk kita dalam mengembangkan usaha dengan
melihat hal-hal positif yang ada untuk dapat dimanfaatkan dalam pengmbangan
usaha yang dimiliki. Dengan adanya peluang berarti adanya hal-hal positif yang
mengarah pada kemajuan atau perkembangan suatu usaha yang sedang di bangun atau
yang baru mulai di bangun dengan melihat propek ke depan usaha nantinya akan
menjadi lebih baik dan meningkatnya pendapatan usaha tersebut.
penulis
berharap, mudah- mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan berguna sebagai
sumber ilmu bagi yang membacanya dan dapat dijadikan bahan referensi sebagai
tolak ukur kemampuan penguasaan materi Pendidikan Berwawasan Kemasyarakatan.
Malang,
8 Januari 2016
Penulis
BAB
II
PEMBAHASAN
INDUSTRI TELUR ASIN
Pengasinan telur merupakan salah satu cara penambahan umur
simpan telur yang umum dilakukan oleh masyarakat. Telur asin merupakan salah
satu sumber protein yang mudah didapat dan berharga relatif murah. Telur asin
sebagai bahan makanan yang telah diawetkan mempunyai daya tahan terhadap
kerusakan yang lebih tinggi dibandingkan telur mentah. Telur umumnya mengandung
protein 13%, lemak 12%, mineral dan vitamin. Selain lebih awet telur asin juga
digemari karena rasanya yang relatif lebih lezat dibandingkan telur tawar biasa.
Konsumen terbesar produk telur asin adalah masyarakat menengah
ke bawah, karena telur asin dapat dijadikan sumber protein hewani yang murah.
Sebagian besar konsumen telur asin adalah penduduk di kota-kota besar.
Disamping untuk konsumen rumah tangga, konsumen lainnya yang sangat potensial
adalah restoran, rumah makan, kapal-kapal laut, rumah sakit, asrama-asrama,
perusahaan jasa boga dan sebagainya.
Perkembangan industri telur asin akan mendorong perkembangan
peternakan itik akan berdampak kepada peningkatan pendapatan para peternak itik
yang umumnya merupakan masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, industri telur
asin dapat dijadikan salah satu usaha yang dapat diandalkan untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat menengah dan bawah serta dapat mengurangi ketergantungan
terhadap sumber protein mahal seperti daging.
Usaha pembuatan telur asin adalah salah satu jenis industri
makanan yang umumnya berskala mikro dan kecil. Bahan baku utama yang akan
dijadikan telur asin adalah telur itik, sedangkan jenis telur lainnya tidak
lazim dilakukan karena kebiasaan dari masyarakat kita yang menganggap telur
asin berasal dari telur itik.
Lokasi industri telur asin umumnya cukup dekat dengan daerah
peternakan itik dan merupakan daerah pesawahan yang luas.
Pengelola usaha ini umumnya adalah keluarga dengan pelaksana
usaha dilakukan sendiri dengan sebagian besar tenaga kerja tetap merupakan
anggota keluarganya. Secara formal izin-izin yang diperlukan meliputi HO, NPWP,
SIUP, dan TDP.
Teknologi yang diperlukan untuk memproduksi telur asin secara
umum merupakan teknologi yang sederhana. Oleh karena itu perbedaan proses
produksi dan kualitas produk telur asin ditentukan berdasarkan cara
pengolahannya.
Pola pembiayaan usaha produksi telur asin dapat berasal dari
pengusaha sendiri maupun dari kredit bank dengan proporsi yang sangat beragam
antar pengusaha. Sumber dana lain berasal dari lembaga Pemerintahan seperti
Kementrian Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah yang disalurkan
melalui bank.
Skim kredit yang tersedia pada lokasi usaha antara lain skim
Kredit Usaha Kecil (KUK) dari BRI Unit dan skim Kredit Program Dana Penjaminan
(KPDP) dari Bank Bukopin di Cirebon. Skim KUK yang diberikan adalah kredit
modal kerja dan atau modal investasi dengan plafond maksimum dapat diputuskan
sendiri oleh BRI Unit dengan kisaran Rp 50 juta, sementara KPDP yang dapat
diputuskan oleh kantor cabang dengan plafond antara Rp 400 – 500 juta.
Dalam rangka pemberian kredit perorangan, bank melakukan
analisis terhadap karakter calon nasabah, kemampuan manajemen, kemampuan
keuangan meliputi modal dan laba usaha, aspek teknis, kondisi dan prospek
usaha, serta agunan. Suku bunga untuk skim kredit KUK yang diberikan oleh BRI
untuk usaha ini berkisar antara 21-24% per tahun dengan jangka waktu kredit satu
hingga dua tahun, sedangkan suku bunga KPDP dari Bank Bukopin adalah 13% per
tahun dengan jangka waktu tiga tahun.
Beberapa persyaratan lain adalah semua transaksi keuangan
dilakukan melalui rekening di bank yang bersangkutan. Biaya administrasi yang
ditanggung oleh calon debitur adalah provisi sebesar 1%, biaya administrasi
sebesar 1O/oo (permil), biaya pengikatan jaminan, biaya notaris dan biaya
resiko. Kriteria yang menjadi pertimbangan bank dalam melakukan analisis kredit
kepada nasabah adalah 5C, yaitu character (watak), capacity (kemampuan),
capital (permodalan), collateral (jaminan) dan condition (kondisi).
Persaingan yang terjadi pada industri telur asin tidak tajam,
karena para pengusaha umumnya telah mempunyai pelanggan tetap. Upaya yang harus
dilakukan pengusaha adalah menjaga mutu sehingga pelanggan puas dan tidak
pindah ke pengusaha lain. Persaingan yang mungkin akan terjadi adalah
persaingan untuk mendapatkan bahan baku yang murah, dimana petani itik petelur
dapat saja memilih untuk menetaskan telur dibandingkan menjual telur tawar
kepada produsen telur asin.
Harga bahan baku utama industri ini adalah telur itik tawar yang
dibeli dengan harga Rp 550 – Rp 650 per butir. Harga bahan baku telur itik
tidak mengalami perubahan yang signifikan selama tidak terjadi kegagalan panen
pada suatu daerah yang akan mengakibatkan berkurangnya stok telur itik yang
menyebabkan meningkatkan harga telur itik tawar.
Harga telur asin yang dijual kepada konsumen berkisar antara Rp 2.000
– Rp 3.000 per butir. Perbedaan harga ditentukan berdasarkan ukuran telur asin,
harga telur asin dengan ukuran lebih besar dapat mencapai Rp 100 lebih mahal
dibandingkan dengan telur yang berukuran lebih kecil. Daerah penjualan turut
mempengaruhi perbedaan harga, sehingga harga telur asin di kota-kota besar
relatif lebih mahal dibandingkan harga telur asin di kota-kota kecil atau
daerah pedesaan
JALUR PEMASARAN
Penjualan produk
industri telur asin ini dapat dilakukan sendiri oleh pengusaha maupun melalui
jasa agen penjualan, dengan pembeli konsumen langsung, rumah-rumah makan dan
perkantoran. Pola pemasaran produk telur asin ini secara umum terbagi tiga,
yaitu :
1.
Pengusaha menjual
langsung produknya ke pasar-pasar setempat. Pada pola ini daerah pemasaran
hanya berkisar pada pasar-pasar yang terdapat pada kabupaten yang sama dengan
daerah produsen telur asin yang bersangkutan. Misalkan untuk Kabupaten Cirebon
daerah pemasaran berlokasi dapat di Pasar Sumber, Pasar Drajat, Pasar Mundur
dan Pasar Karang Sambung.
2.
Pengusaha
memperkerjakan tenaga-tenaga pemasaran di kota-kota besar untuk mendapatkan
pesanan dalam jumlah yang besar dan harga yang cukup baik. Para tenaga
pemasaran tersebut akan menjual telur asin ke rumah-rumah makan atau konsumen
secara langsung. Kota yang menjadi daerah pemasaran utama untuk produksi telur
asin dari wilayah ini adalah DKI Jakarta dan sekitarnya.
3.
Pemesanan langsung
dari agen-agen penjual telur asin yang berada dari luar daerah produsen telur
asin, dimana para agen tersebut akan memasok telur asin ke restoran, kapal dan
perkantoran.
Dari ketiga jenis pemasaran di atas, untuk pemesanan yang hanya
memerlukan angkutan darat semua produk diangkut dengan kendaraan yang dimiliki
oleh produsen telur asin, sedangkan untuk pemesanan lintas pulau dapat pula
menggunakan sarana angkutan udara.
KESIMPULAN
1.
Industri telur asin mempunyai peranan
penting dalam rangka memenuhi kebutuhan sumber protein dan lemak yang berharga
murah bagi masyarakat. Perkembangan peternakan itik petelur merupakan faktor
pendukung terbesar bagi industri telur asin agar dapat memasok telur asin
dengan harga yang murah dan bermutu tinggi.
2.
Dua faktor terpenting bagi keberhasilan
industri telur asin selain faktor bahan baku adalah rasa telur asin dan
kualitas pengangkutan produk. Rasa telur asin akan menjadi faktor pembeda suatu
produsen dengan produsen lainnya, dimana akan timbul keterikatan antara
konsumen dengan produsen telur asin tertentu.
3.
Total biaya investasi yang dibutuhkan
untuk industri telur asin adalahRp 173.525.000, yang dibiayai dari pinjaman
kredit 70% (Rp 121.467.500) dan biaya sendiri 30% (Rp 52.057.500), dengan bunga
pinjaman 14% dan masa pinjaman kredit investasi selama 3 tahun. Biaya modal
kerja adalah sebesar Rp 167.923.125 yang dibiayai dari pinjaman kredit 70% (Rp
117.546.188) dan biaya sendiri 30%(Rp 50.376.938), dengan bunga pinjaman 14%
dan masa pinjaman kredit selama 3 tahun.
4.
Industri telur asin ini sangat sensitif
terhadap kenaikan biaya variabel maupun penurunan pendapatan, karena usaha ini
masih dianggap layak bila kenaikan biaya variabel atau penurunan pendapatan
hanya sampai 1%. Kenaikan biaya variabel sebesar 3% atau penurunan pendapatan
sebesar 2% menjadikan usaha tersebut tidak layak (NPV Negatif).
Pengembangan industri telur asin memberikan
manfaat yang positif dari aspek sosial ekonomi wilayah dengan terbukanya
peluang kerja serta peningkatan pendapatan masyarakat, dan tidak menimbulkan
dampak lingkungan yang signifikan.